Guru Bangsa (t )
Cak Nur telah tiada.. Amien Rais sudah kembali ke bulaksumur.. Gus Dur sibuk dengan perselisihan di partainya.. habibie telah jauh di jerman sana.. para tokoh lain sibuk dengan urusan urusannya masing masing.. satu persatu para figur yang di harap menjadi Guru Bangsa telah jauh dari kualifikasi tersebut, namun tak mengapa.. bangsa indonesia telah menemukan Guru bangsa yang baru.. Guru Bangsa itu mudah di jumpai kapanpun.. di manapun.. dengan mudah dan murah.. tak terkendala oleh jarak dan waktu.
Guru Bangsa itu bernama televisi..
Televisi lah yang mengajar anak anak bangsa ini untuk mengatur cara berpakaian.. cara berdandan.. cara bersopan..cara bertikai dengan saudaranya demi warisan.. cara menyingkirkan lawan dalam persaingan mendapatkan pasangan,cara menelanjangi nasib orang.. televisi pulalah yang mengajar mistik dan aneka kebohongan.. kriminal dan aneka kekerasan.. tindak cabul dan amoral.. serta banyak hal lain..
banyak kebiasaan yang kurang baik yang di benarkan.. bukan kebenaran yang di biasakan..televisi mengambil peran yang sangat besar.. ketika membawa para remaja dan orang tuanya berbondong bondong mengejar profesi keartisan.. glamouritas dan gaya hidup serba instan..televisi juga berperan dalam mendidik generasi goblok yang tidak dalam dalam menganalisa persoalan.. hanya hura hura dan cengengesan..
tidak semua produk dan program televisi buruk.. ada sisi baiknya.. namun itu hanya minoritas adanya.. dan itupun tak laku di mata pemirsa..
Selamat datang Guru Bangsa ( yang tidak mendidik ).. selamat berkarya..